Insta360 akhirnya menghadirkan penerus seri GO dengan peningkatan yang mumpuni. Spesifikasi Insta360 GO Ultra menjadikannya salah satu action cam terbaik yang bisa Anda pilih di tahun ini.
GO Ultra hadir dengan desain kotak ringkas berukuran 46 × 45,7 × 18,3 mm dan bobot sekitar 53 g. Bentuk barunya bukan cuma soal gaya, tapi juga bikin pembuangan panas lebih baik saat rekaman 4K. Selain itu, bodinya sudah dilengkapi basis magnetik yang kuat sehingga gampang ditempel ke aksesori atau permukaan logam.

Di bagian depan ada LED status, lampu indikator orientasi, dan tombol fisik tersembunyi yang bisa ditekan untuk start atau stop cepat. Fitur ini sangat praktis, apalagi saat kamera dipakai di dada. Untuk ketahanan, unit kameranya sudah IPX8 sehingga tahan air sampai 10 m dan tetap aman dipakai di suhu beku hingga −20°C. Jadi, kamera ini bisa digunakan ke kolam, pantai, hiking salju, atau bahkan hujan ringan.
Sementara itu, Action Pod hanya IPX4 alias splash-proof, cukup tangguh untuk cipratan tapi tidak bisa dicelup. Lensa kameranya dilindungi lens guard berulir yang bisa diganti jika tergores. Guard ini juga sudah dilapisi anti-fog coating agar terhindar dari embun ketika suhu berubah drastis, jadi masalah klasik kamera aksi bisa teratasi dengan rapi.

Salah satu kekuatan seri GO ada pada cara pakainya yang fleksibel. Kamera bisa dipakai secara standalone atau dipasang ke Action Pod. Saat terhubung ke pod, pengguna akan mendapatkan layar sentuh flip 2,5 inci yang tajam untuk cek framing, playback, dan navigasi menu.
Engsel layarnya terasa kokoh dan bisa diputar menghadap depan sehingga pas dipakai untuk vlogging. Antarmukanya juga menampilkan tutorial gestur di awal sehingga pengguna baru bisa cepat beradaptasi. Di bagian pod tersedia tombol Record merah, tombol power, dan Q button untuk pindah mode atau preset.
Kamera dan pod dapat terhubung secara nirkabel sehingga kamera bisa ditempatkan di helm atau stang, sementara pod tetap di tangan untuk live preview dan kontrol.
Sensor 1/1.28 inci yang dibawa seri terbaru ini ukurannya 221% lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Dukungan chip AI 5nm memberi dorongan besar pada pemrosesan gambar dan sistem stabilisasi. Fitur PureVideo juga membuat hasil rekaman low-light jauh lebih baik.
Peningkatan ini membuka opsi perekaman 4K60fps yang sebelumnya terbatas di 4K30, sekaligus menghadirkan detail lebih tajam, dynamic range lebih luas, dan noise yang jauh berkurang saat dipakai di kondisi minim cahaya. Kemampuan foto juga ikut naik dengan resolusi hingga 50MP berbasis sensor Quad Bayer, lengkap dengan pilihan JPG maupun DNG RAW.
Active HDR tersedia di mode foto dan video untuk menjaga detail area terang serta bayangan. Beberapa penguji bahkan menilai hasil videonya mirip gaya Dolby Vision, walaupun perekamannya masih berbasis 8-bit SDR (Rec.709) dengan efek “HDR look,” bukan 10-bit log/Rec.2020 seperti pesaing tertentu. Untuk sebagian besar pengguna, hasil instan ini justru lebih memudahkan karena bisa langsung dipakai tanpa proses color grading yang rumit.

Bidang pandang ultra-wide 156° (ekuivalen ±14,27 mm) membuat kamera ini lebih lebar dibanding 150° pada seri sebelumnya. Sudut yang luas memberi ruang aman saat dipasang di dada atau helm untuk rekaman POV. Buat yang kurang suka efek distorsi ekstrem, tersedia mode MegaView (Linear/de-warp) agar hasil terlihat lebih natural.
Sistem stabilisasi FlowState generasi terbaru juga hadir dengan beberapa mode yang bisa disesuaikan, lengkap dengan Jitter Blur Reduction dan Tilt Fix yang mampu mengoreksi kemiringan hingga ±10°. Fitur-fitur ini menjaga rekaman tetap mulus, baik saat berlari, bersepeda, maupun membuat klip unik seperti “dog POV.”
Ada juga Loop Recording, Slow Motion, Burst atau Interval Photo, serta Portrait Mode yang dibantu AI. Fitur pre-recording ikut ditambahkan sehingga kamera bisa menyimpan 10, 15, atau 30 detik sebelum tombol rekam ditekan. Fungsi ini sangat membantu menangkap momen spontan, walau memang membutuhkan konsumsi baterai lebih.
Kontrol juga makin praktis berkat Voice Control 2.0 dan Gesture Control yang memungkinkan start atau stop tanpa harus menyentuh kamera. Untuk aktivitas olahraga seperti lari atau bersepeda, data GPS, detak jantung, dan kecepatan dari Strava, Garmin, atau Apple Watch bisa langsung di-overlay ke video sehingga konten terlihat lebih informatif.
Mikro internal GO Ultra sekarang lebih canggih dengan pilihan Stereo, Voice Enhancement, dan Wind Reduction yang bisa disetel weak atau strong. Saat dipakai jalan santai atau di tengah suasana kota, suara vokal terdengar jelas sementara ambience tetap terkontrol.

Namun angin kencang masih bisa jadi tantangan, jadi solusi paling praktis biasanya memakai wind muff khusus GO atau menambahkan mikrofon eksternal lewat Bluetooth. Beberapa opsi yang kompatibel termasuk Insta360 Mic Air, DJI Mic 2 atau Mini, bahkan AirPods Pro 2 yang sudah diuji oleh sejumlah reviewer.
Kalau dipasang dengan chest-mount menggunakan kalung magnet, suara dari mikro internal memang cenderung terdengar agak jauh. Hal ini wajar karena posisi mic tidak dekat dengan mulut.
nsta360 GO Ultra sekarang sudah meninggalkan memori internal dan beralih ke microSD hingga 2TB. Perubahan ini benar-benar mengubah cara kerja karena pengguna bisa lebih mudah menukar kartu, menyesuaikan dengan workflow multi-kamera, dan tidak lagi bergantung pada cradle untuk transfer data.
Action Pod bukan cuma tempat dudukan, melainkan juga berfungsi sebagai dok baterai, layar, remote, dan port USB-C dalam satu perangkat yang terasa ergonomis berkat grip bertekstur. Saat kamera dipasang, sistem ini berubah menjadi kamera aksi tradisional yang lebih mudah dikendalikan, punya baterai tambahan, dan bisa langsung transfer data lewat kabel.
Pod juga bisa dilepas untuk dipakai sebagai monitor nirkabel sehingga framing bisa dicek lebih dulu sebelum kamera dipasang di posisi yang sulit dijangkau. Namun ada hal penting yang perlu diingat, Pod hanya punya rating IPX4 sehingga tidak sepenuhnya tahan air.

Hasil uji laboratorium mencatat daya tahan baterai kamera ini bisa sampai 70 menit dalam mode 1080p Endurance dengan layar dan Wi-Fi dimatikan, serta hingga 200 menit bila dipasangkan dengan Action Pod. Dalam praktiknya, beberapa sumber menemukan angka nyata berkisar 36–60 menit pada resolusi 4K ketika digunakan secara standalone, dan sekitar 120–180 menit saat bersama pod.
Semua itu sangat bergantung pada resolusi, suhu, Wi-Fi, dan mode yang dipilih. Hal lain yang menarik, fitur fast charging mampu mengisi kamera dari 0 hingga 80% hanya dalam waktu sekitar 12 menit, atau sekitar 18 menit bila sekaligus mengisi Pod.
Untuk pemakaian berat seperti perekaman 4K60, kamera mungil ini memang bisa terasa hangat hingga panas. Beberapa reviewer bahkan mencatat overheat saat digunakan di ruangan panas atau ketika pod terus menyala untuk monitoring.
Cara termudah mengatasinya adalah memberi jeda singkat lalu memanfaatkan fast charge 10–12 menit sebelum lanjut merekam. Karena baterainya tidak bisa dilepas, penggunaan power bank dengan dukungan PD menjadi solusi terbaik agar sesi panjang tetap lancar.
